Berbagai Tes Medis yang Digunakan Dalam Evaluasi Stroke

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh:

Stroke dapat mempengaruhi begitu banyak kemampuan Anda, mulai dari penglihatan dan cara bicara, hingga gerakan kaki dan kemampuan koordinasi. Kondisi stroke, tidak seperti kebanyakan masalah neurologis lainnya, biasanya terjadi relatif secara tiba-tiba dan cepat. Salah satu keterampilan yang paling penting bagi seorang ahli saraf atau anggota dari tim perawatan stroke adalah kemampuan untuk membedakan dengan cepat dan akurat perbedaan antara stroke dan masalah neurologis lainnya yang tidak begitu serius.

Bahkan, sebelum tes pencitraan canggih dikembangkan, dokter bisa dengan tepat menentukan jika pasien mengalami stroke dalam beberapa menit. Dengan kemajuan pencitraan dan tes medis, mahasiswa kedokteran modern sudah diajarkan bagaimana metode mengidentifikasi lokasi spesifik dari stroke di otak.

Selain pencitraan, ada juga berbagai tes medis yang digunakan dalam evaluasi stroke. Beberapa tes ini dapat membantu menentukan apakah ada masalah kesehatan lain yang perlu diperhatikan selain stroke. Beberapa tes digunakan untuk membantu memandu pengobatan medis yang aman setelah stroke, terutama pengobatan dengan obat pengencer darah. Beberapa tes digunakan untuk menilai faktor risiko stroke. Beberapa tes ini digunakan untuk membantu mencari tahu apakah ada masalah medis lain selain stroke yang gejalanya mirip dengan stroke. Tidak semua penderita stroke memerlukan semua tes ini, kebanyakan pasien hanya perlu beberapa tes saja.

Apa tes medis yang digunakan untuk evaluasi stroke?

Berikut adalah daftar dari beberapa tes medis yang mungkin Anda butuhkan jika Anda memiliki stroke atau perlu dievaluasi untuk adanya stroke.

Tes darah

Tes darah dapat mengevaluasi faktor risiko tertentu atau konsekuensi dari stroke.

  • CBC (Complete Blood Count) atau pemeriksaan darah lengkap. Tes CBC dapat membantu mengukur apakah ada masalah pada sel-sel darah, elektrolit tubuh, atau apakah ada peradangan atau infeksi.
  • Tes waktu PT/PTT prothrombin/thromboplastin parsial. Tes darah ini mengukur waktu yang dibutuhkan darah untuk membeku. Tes ini sangat penting dalam memonitor pengobatan dengan cara pengenceran darah secara darurat yang kadang-kadang digunakan untuk pengobatan stroke.
  • Tes kolesterol/lipid. Sebuah analisis yang cermat dari kadar lemak dan kolesterol dapat membantu menilai risiko penyakit pembuluh darah.

Tes darah khusus

Tes tertentu seperti homosistein, lupus antikoagulan, faktor rheumatoid, antibodi anti-nuklir, dan tes lainnya dapat diminta ketika ada kecurigaan dari penyakit autoimun atau penyakit umum lainnya.

  • Tes gula darah dapat menentukan apakah seseorang memiliki diabetes yang tidak diobati, yang merupakan faktor risiko stroke
  • Tes hemoglobin A1C dapat mengungkapkan apakah penderita stroke telah memiliki gula darah tinggi selama beberapa bulan terakhir
  • Tes gas arteri darah mengukur oksigen dan karbon dioksida dalam darah yang dapat membantu menilai fungsi jantung dan paru-paru.

Analisis urin

  • Tes glukosa dalam urin. Jika ditemukan glukosa dalam urin, ini merupakan tanda diabetes.
  • Toksisitas obat. Banyak penggunaan obat-obatan terlarang dapat menyebabkan stroke terutama kokain dan methamphetamine. Beberapa obat tidak selalu menyebabkan stroke, tetapi dapat menggangu penilaian terhadap orang lain dan caravberpikir, membuat perilaku pasien seolah-olah dia mengalami stroke.

Tes khusus

  • Tes EKG mengevaluasi fungsi jantung dan dapat mengungkapkan apakah ada serangan jantung atau kelainan irama jantung
  • Tes cairan serebrospinal dapat menentukan apakah ada infeksi akibat cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang, yang dapat menyebabkan stroke atau memiliki kondisi yang sama dengan stroke. Tes ini bisa juga menunjukkan karakteristik sclerosis ganda yang mungkin meniru gejala stroke.
  • evoked potentials adalah tes yang mengukur aktivitas listrik di otak. Tes ini dapat memberikan petunjuk untuk membantu dalam diagnosis sclerosis ganda.
  • EEG. Tes ini adalah tes gelombang otak yang mengevaluasi aktivitas listrik. Dapat menunjukkan apakah ada kejang, yang mungkin awalnya menyerupai dengan gejala stroke. Perubahan karakteristik EEG yang menyertai stroke sering mengalami perubahan.
  • EMG. Sebuah tes saraf dan otot yang digunakan untuk mengevaluasi neuropati, yang mungkin menyerupai gejala stroke.

Sumber