Benarkah Botox Dapat Digunakan untuk Mengobati Stroke?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh:

Botox adalah nama yang umum digunakan untuk prosedur injeksi wajah yang dikenal efektif untuk mengurangi munculnya garis-garis halus dan kerutan wajah. Botox dan produk sejenis lainnya adalah larutan suntik yang dibuat dengan toksin botulinum dan dapat dengan sementara mengontrol keriput. Namun penggunaan injeksi toksin botulinum untuk manfaat kecantikan terbilang baru. Injeksi toksin botulinum telah lama digunakan untuk beberapa perubahan otot yang mungkin terjadi pasca stroke.

Botox adalah toksin botulinum, sejenis racun neurotoksin yang kuat dan dihasilkan oleh bakteri clostridium botulinum. Awal mulanya, toksin ini diidentifikasi sebagai racun mematikan dan bisa diperoleh dengan memakan makanan yang terkontaminasi dengan clostridium botulinum. Dampak dari penyakit ini, yang menyebabkan kelumpuhan saraf berkepanjangan dan lemas otot, disebut botulisme. Penyakit ini disebabkan oleh dampak toksin yang mengancam nyawa dan membuat otot di seluruh tubuh lemas, termasuk otot yang mengontrol fungsi penting seperti bernapas.

Apa kegunaan medis dari botox?

Setelah 1950, ilmuwan mengembangkan kemampuan untuk mengisolasi toksin dan secara hati-hati menyuntikkannya ke otot untuk penanganan masalah medis seperti kejang otot yang bisa terjadi setelah stroke atau pada gangguan neurologis serius seperti cerebral palsy.

Perubahan pada beberapa otot bisa mempengaruhi penderita stroke. Atrofi adalah kelemahan dan hilangnya otot. Efek otot lain akibat stroke termasuk kejang, spastisita,s dan kontraktur. Kejang otot terjadi ketika otot aktif tanpa disadari, alias tidak disengaja. Orang yang menderita spastisitas atau kontraktur mengalami aktivitas berlebih dari otot tertentu. Spastisitas terjadi ketika otot menjadi kaku karena aktivitas otot jangka panjang di mana otot tidak dapat bergerak dengan sendirinya diakibatkan oleh kerusakan otak atau tulang belakang. Selain itu, kontraktur terjadi ketika otot terkunci pada kondisi aktif namun terlalu lemah untuk bergerak secara sadar. Kejang otot, spastisitas, dan kontraktur bisa terjadi setelah stroke dikarenakan perubahan struktur pada otak dan saraf. Hal ini bisa sangat menyakitkan dan mungkin bahkan berujung pada cedera.

Bagaimana cara kerja botox sebagai penanganan stroke?

Toksin botulinum, komponen dari suntikan botox, bekerja dengan mencegah interaksi normal atau abnormal antara saraf dan otot, terutama yang menyebabkan kelumpuhan otot. Toksin botulinum bekerja pada bagian saraf yang mengirim pesan ke otot. Saraf umumnya mengirim pesan ke otot dengan merangsang pelepasan neurotransmitter yang disebut asetilkolin. Dalam keadaan normal, asetilkolin dilepaskan ketika saraf diaktifkan. Asetilkolin mengikat otot, dengan cepat memulai serangkaian peristiwa yang menyebabkan otot untuk kontraksi.

Ketika kontraksi otot, kondisi tersebut menandakan asetilkolin telah aktif. Namun, ketika otot dirangsang berlebihan karena kerusakan yang disebabkan oleh stroke, kondisi ini akan tetap aktif bahkan ketika seharusnya tidak, mengakibatkan ketidakmampuan untuk santai. Suntikan botox bisa menyebabkan relaksasi otot dengan menghalangi kontraksi (aktivasi). Toksin botulinum menghalangi keluarnya asetilkolin yang menyebabkan kelumpuhan otot.

Meski penyakit botulisme berbahaya dan menyebabkan kelumpuhan pada banyak otot, suntikan toksin botulinum memungkinkan untuk menargetkan otot-otot tertentu yang terlalu aktif. Pada situasi kejang-kejang, spastisitas, dan kontraksi, pasien sebenarnya bisa diuntungkan dari kelumpuhan otot. Pengaruh suntikan toksin botulinum adalah sementara dan tidak menghilangkan kejang-kejang, spastisitas, atau kontratur seutuhnya, tetapi bisa mengurangi beberapa ketidaknyamanan yang terjadi pada beberapa pasien setelah stroke. Bisa juga membantu penderita stroke yang mengalami masalah dalam mengontrol saluran kencing. Toksin ini tidak memiliki efek kuratif dan tidak dapat membantu memulihkan fungsi otak. Perawatan botox untuk pasien stroke harus disuntik oleh dokter terlatih yang berpengalaman dalam perawatan stroke dan injeksi toksin botulinum.

Sumber